Banner
Pendaftaran OnlineSisitem Informasi Akademik
Login Member
Username:
Password :
Agenda
23 May 2018
M
S
S
R
K
J
S
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Jajak Pendapat
Menurut anda (alumni) perkuliahan di STIELM sesuai dengan kebutuhan pasar
Ya
Tidak
  Lihat
Bagaimana menurut anda tentang profil dosen di STIELM?
Sangat Baik
Baik
Cukup Baik
Tidak Baik
  Lihat
Bagaimana menurut anda (mahasiswa) tentang Perkuliahan di STIELM?
Sangat Baik
Baik
Cukup Baik
Tidak Baik
  Lihat
Bagaimana menurut Anda tentang tampilan website ini ?
Bagus
Cukup
Kurang
  Lihat

Distance Learning (Pembelajaran Jarak Jauh)

Tanggal : 20-02-2018 11:40, dibaca 239 kali.

Salah satu permasalahan pendidikan di Indonesia adalah masalah keterbatasan akses warga masyarakat terhadap pelayanan pendidikan,terutama pendidikan yang bermutu. Pada hal, mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu adalah merupakan hak warga negara. Artinya bahwa negara berkewajiban untuk memberikan akses kepada warga negara untuk mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu. Diantara penyebab permasalahan ini adalah keterbatasan anggaran negara dalam membangun fasilitas pendidikan (sekolah) di seluruh wilayah Indonesia secara merata. Selain itu juga disebabkan oleh terbatasnya tenaga pendidik (guru) yang di sediakan oleh negara, sementara di lain pihak jumlah penduduk Indonesia sangat besar sehingga kemampuan lembaga pendidikan yang ada, belum mampu melayani proses pendidikan seluruh masyarakat secara bermutu. Namun demikian, para praktisi pendidikan tidak boleh hanya “duduk berdiam diri” dalam menghadapi tantangan pembangunan pendidika ini, oleh karena itu harus segera di usahakan solusi pemecahannya.


Usaha pembangunan pendidikan dengan cara-cara yang konvensional seperti membangun gedung-gedung sekolah dan mengangkat guru baru, hal ini tidak lagi dapat dipandang sebagai langkah yang mampu memecahkan masalah pendidikan. Pembaharuan pendidikan tidak mungkin lagi dapat dilakukan dengan cara-cara yang lama dengan menggunakan metode yang lama.

Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dsb. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya e-learning yang dalam pelaksanaannya banyak digunakan untuk menunjang apa yang disebut Distance Learning (DL) atau pendidikan jarak jauh.
        Distance Learning atau pendidikan jarak jauh, yang dalam UU Sisdiknas pasal 1 ayat 15 diartikan sebagai pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan  berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi, informasi dan media lain (Supradono, B., 2009).
Di Indonesia pembelajaran distance learning masih tergolong sistem pendidikan dengan teknologi baru ( Adhiatma, N., 2011), tidak semua institusi pendidikan berhasil melaksanakan. Menurut Singh, H., (2003) Informasi terbaru mengatakan  dengan kemajuan teknologi pembelajaran jarak jauh menjadi lebih diakui untuk berpotensi  dalam memberikan perhatian  secara individual  dan komunikasi dengan siswa dapat dilakukan  dengan fleksibel (Salim, K., dan Tiawa DH., 2014).

Brown, Mary Daniels., (2000) menjelaskan bahwa pembelajaran jarak jauh berbasis e-education ini mempunyai keuntungan yang berbeda dengan sistem pembelajaran berbasis komputer konvensional yang biasa digunakan di antaranya iaitu; (1) dapat menghemat biaya pendidikan lebih jauh dari pada pembelajaran kelas konvensional, (2) dapat menghemat biaya biaya seperti; biaya perjalanan dinas, biaya fasilitas dan penyelenggaraan pendidikan, buku-buku siswa(teksbook) dapat diganti dengan e-book (virtual library), sistem administrasi pembelajaran lebih mudah dan murah tidak dilakukan dengan cara konvensional (Salim, K., dan Tiawa DH., 2014).

Selanjutnya untuk menjawab permasalahan mengenai  terpusatnya pendidikan dikota-kota besar seperti saat ini, maka distance learning sudah selayaknya mendapat perhatian khusus. Seorang peserta didik dapat terdaftar di instansi pendidikan yang berbasis dimanapun yang dirasa memiliki kualitas yang baik, tentunya setelah melalui tes seleksi yang ditentukan instansi itu sendiri atau pemerintah. Setelah itu, proses pembelajaran dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun seperti yang diinginkan. Peserta didik dapat melaksanakan kegiatan belajarnya di daerah asalnya tanpa harus menuju basis instansi pendidikan tersebut seperti yang terjadi pada pendidikan konvensional. Dengan demikian, pembelajaran tidak lagi terpusat di kota-kota besar saja. Semua warga negara Indonesia dari daerah manapun dapat mengenyam pendidikan di daerah masing-masing (Supradono, B., 2009)
        Untuk itu kita harus bisa mengembangkan sistem pendidikan yang lebih terbuka, lebih luwes, dan dapat diakses oleh siapa saja yang memerlukan tanpa memandang usia, jender, lokasi, kondisi sosial ekonomi, maupun pengalaman pendidikan sebelumnya. sistem tersebut juga mampu meningkatkan mutu pendidikan secara merata. Sistem pendidikan tersebut adalah sistem pendidikan terbuka atau sistem belajar jarak jauh (distance learning), yang merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional. Oleh karena itu dalam makalah ini akan bahas mengenai metode mengajar distance learning dengan harapan agar praktisi pendidikan di Indonesia dapat lebih memahaminya lebih mendalam.

Pengertian Distance Learning

Tahun 1980 Keegan memberikan definisi sistem pendidikan jarak jauh berdasarkan analisisnya terhadap beragam definisi dan tradisi praksis.  Menurut Keegan. System pendidikan jarak jauh memiliki karakteristik sebagai berikut: (http://padamu.net/sistem-pendidikan-jarak-jauh)
  • Terpisahnya siswa dan pengajar yang membedakan pendidikan jarak jauh dengan pengajaran tatap muka.
  • Ada pengaruh dari suatu organisasi pendidikan yang membedakannya dengan belajar sendiri  di rumah (home study).
  • Penggunaan beragam media—cetak, audio, video, computer, atau multi media—untuk mempersatukan antara siswa dan pengajar dalam suatu interaksi pembelajaran.
  • Penyediaan komunikasi dua arah sehingga siswa dapat mengambil manfaat darinya dan bahkan mengambil inisiatif untuk dialog.
  • Kemungkinan pertemuan sekali-sekali untuk keperluan pembelajaran dan sosialisasi (pembelajaran diarahkan kepada individu, bukan kepada kelompok).
  • Proses pembelajaran yang memilik bentuk hamper sama dengan proses industri.
Selanjutnya, Distance learning (DL) atau pendidikan jarak jauh dalam UU Sisdiknas pasal 1 ayat 15 diartikan sebagai pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi, informasi, dan media lain (Supradono, B., 2009).

Sedangkan menurut Simonson, Smaldino, Albright & Zvacek (2006). Mereka mendefinisikan pendidikan jarak jauh sebagai berikut: “Distance education is defined as institution-based formal education where the learning group is separated, and where interactive telecommunications systems are used to connect learners, resources, and instructors”. Definisi ini menunjukkan bahwa pendidikan jarak jauh memilki ciri-ciri sebagai berikut: (https://lalangiran.wordpress.com/tag/long-distance-learning/)
•    Adanya lembaga formal yang menyelenggarakan program pendidikan.
•    Kelompok peserta belajar terpisah dengan pengajar
•    Digunakannya sistem telekomunikasi untuk menghubungkan peserta belajar, sumber-sumber belajar, dan pengajar
Departemen Pendidikan Amerika Serikat, mendefinisikan pendidikan jarak jauh seperti dkutip oleh Schlosser dan Simonson (2006) “Distance education is the application of telecommunications and electronic devices which enable students and learners to receive instruction that originate from some distant location”. Pengertian ini lebih spesifik menyebutkan penggunaan alat telekomunikasi dan elektronik sebagai media untuk memungkinkan terjadinya pembelajaran dari jarak yang jauh dari sumber belajarnya (https://lalangiran.wordpress.com/tag/long-distance-learning/).

Distance Learning atau pembelajaran jarak jauh, adalah bidang pendidikan yang berfokus pada pedagogi, teknologi, dan desain sistem instruksional yang bertujuan untuk memberikan pendidikan kepada para siswa yang tidak secara fisik "di situs" di kelas tradisional atau kampus. Ini telah digambarkan sebagai "suatu proses untuk membuat dan menyediakan akses untuk belajar ketika sumber informasi dan peserta didik dipisahkan oleh waktu dan jarak, atau keduanya". Dengan kata lain, pembelajaran jarak jauh adalah proses menciptakan pendidikan pengalaman kualitas yang sama bagi pelajar terbaik sesuai dengan kebutuhan mereka di luar kelas. Teknologi baru ini menjadi banyak digunakan di universitas-universitas dan lembaga di seluruh dunia. Dengan tren baru-baru ini kemajuan teknologi, pembelajaran jarak jauh menjadi lebih diakui untuk potensialnya dalam memberikan perhatian individual dan komunikasi dengan siswa internasional (http://febrisabtio.blogspot.co.id/, diposkan oleh Febri Sabtio W di 2:44 PM, di browsing 2 Mei 2016).
Sementara itu pengertian Distance learning menurut Haryono (2001) mengetengahkan ada 6 (enam) unsur dasar pengertian dari distance learning atau pendidikan jarak jauh, yaitu (Agus Lahinta, Seminar Internasional, ISSN 1907-2066)
  • Terpisahnya dosen dan mahasiswa, karakteristik inilah yang membedakan Distance Learning dari pendidikan konvensional.
  • Adanya lembaga yang mengelola Distance Learning. Hal ini yang membedakan orang yang mengikuti Distance Learning dari orang yang belajar sendiri (self study).
  • Digunakannya media sebagai sarana untuk menyajikan isi perkuliahan.
  • Diselenggarakanya sistem komunikasi dua arah antara dosen dan mahasiswa atau lembaga dan mahasiswa sehingga mahasiswa mendapatkan manfaat darinya. Dalam hal ini mahasiswa dapat berinisiatif untuk terjadinya komunikasi itu.
  • Pada dasarnya Distance Learning bersifat pendidikan individual. Pertemuan tatap muka untuk melengkapi proses pembelajaran berkelompok maupun untuk sosialisasi dapat bersifat keharusan (compulsory), pilihan (optional), ataupun tidak sama sekali tergantung kepada organisasi penyelenggaranya.
Selanjutnya Greenberg (1998) mendefinisikan pembelajaran jarak jauh sebagai "sebuah rencana pengajaran/pengalaman belajar yang menggunakan spektrum yang luas dari teknologi untuk menjangkau peserta didik di kejauhan dan dirancang untuk mendorong interaksi peserta didik belajar dan sertifikasi". Sedangkan Teaster dan Blieszner (1999) berpendapat  "istilah pembelajaran jarak jauh telah diaplikasikan ke berbagai metode instruksional".  Proses distance learning bisa secara synchronous, di mana pengajar dan peserta didik dapat berinteraksi dalam waktu yang sama walaupun tidak dalam satu tempat, seperti contohnya teleconference. Sedangkan Asynchronous, peserta didik berinteraksi dapat pada waktu yang tidak sama dan tempat yang tidak sama juga, contohnya media Compact-disk (CD), dan e-learning. Distance learning juga dapat memperluas jangkauan dan jumlah peserta didik (Kozlowski, 2002) (http://widhiamauduah. blogspot.co.id/2012/06/distance-learning.html, diposkan oleh widhia maudu'ah di 02.01, di browsing 2 Mei 2016).

Dari definisi di atas, dapat kita simpulkan bahwa distance learning adalah merupakan bentuk pengembangan dari proses pembelajaran konfensional yang diakibatkan oleh adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, dimana proses penyampaian bahan ajar kepada peserta didik menggunakan teknologi informasi dan komunikasi sehingga proses pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik dengan pengajar, tidak mengharuskan saling berhadapan secara langsung pada suatu tempat atau suatu waktu tertentu.

http://firdaussuaib.blogspot.co.id/2016/06/distance-learning-pembelajaran-jarak.html 


Pengirim : Adi Robith Setiana


Share This Post To :

Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Komentar FB
Komentar Standar

Komentar Melalui Facebook :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas

Kembali ke atas