Banner
Pendaftaran OnlineSisitem Informasi Akademik
Login Member
Username:
Password :
Agenda
23 July 2018
M
S
S
R
K
J
S
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Jajak Pendapat
Menurut anda (alumni) perkuliahan di STIELM sesuai dengan kebutuhan pasar
Ya
Tidak
  Lihat
Bagaimana menurut anda tentang profil dosen di STIELM?
Sangat Baik
Baik
Cukup Baik
Tidak Baik
  Lihat
Bagaimana menurut anda (mahasiswa) tentang Perkuliahan di STIELM?
Sangat Baik
Baik
Cukup Baik
Tidak Baik
  Lihat
Bagaimana menurut Anda tentang tampilan website ini ?
Bagus
Cukup
Kurang
  Lihat

Kampus, Mahasiswa, dan Opini Peradaban

Tanggal : 29-01-2018 10:48, dibaca 515 kali.

Para Guru Besar, pemimpin, pemikir, pendidik, birokrat, politisi, dan enterpreneur saat ini adalah mahasiswa jaman dahulu sebaliknya mahasiswa saat ini adalah para pengganti mereka di masa yang akan datang. Kalangan luas berasumsi bahwa kampus adalah lingkuangan penyemai benih manusia-manusia yang diharapkan memiliki intelektualitas yang tinggi, pewaris estafet peradaban dan agen perubahan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Mahasiswa adalah warga kampus yang sedang berjuang menyerap ilmu dan aktualisasi diri dalam privasi keilmuan dan disiplin masing-masing. 

Ironis, kehidupan masyarakat terdidik dalam sivitas akademika kampus dewasa ini kerap tercoreng oleh ulah segelitir oknum yang tidak mencerminkan betapa mulianya menjadi bagian dari mayarakat berpikir. Kasus tawuran antar-mahasiswa, korupsi di lingkungan kampus, maraknya peredaran narkoba pada kalangan pendidikan tinggi, jual-beli seks, plagiarisme, maladminstrasi akademik membuat kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan tinggi menjadi turun drastis. Beberapa orangtua bahkah tidak mau membiayai kuliah anak-anaknya karena takut akan pergaulan dan kehidupan kampus. Kepercayaan khalayak bahwa kampus adalah sarana satu-satunya sebagai tahap akhir dari pendidikan formal tergerus oleh prilaku distortif dan kontra-produktif oleh oknum mahasiwa, dosen dan bahkan pimpinan perguruan tinggi.

Sejak ditetapkan akreditasi sebagai prasyarat sebuah institusi kampus dan program studi, lingkungan akademik kampus berubah menjadi sarang arsip dan rantai siklus adminstrasi yang tidak berkesudahan. Target pencapaian empat tahunan seakan menjadi tolak ukur keberhasilan kampus dalam mendidik dan menggembleng manusia. Sulit memang untuk terlepas dari belenggu adminstrasi yang bertumpuk, selain disebabkan oleh regulasi yang ketat pertanggungjawaban penggunaan anggaran juga erat kaitannya dengan proses pengarsipan dan pelaporan. Pola audit-mutu berbasis akreditasi ini juga bukan tidak rentan terhadap penyelewengan dan penyimpangan. Berapa banyak kampus-kampus yang nilai akreditasinya tinggi namun mutu lulusannya tidak mencerminkan asal kampusnya. Bahkan terdapat juga skandal-skandal yang muncul ke permukaan. 

Kampus dan mahasiswa harus lebih dari sekedar gudang arsip dan lembaga wajib lapor. Mahasiswa harus diberi ruang yang maha luas untuk bertransformasi dan berkembang dengan dialektika keilmuan. Kampus handaknya menjadi ladang subur untuk mengexplorasi potensi diri mahasiswa dan dosen berpikir terhadap peradaban manusia kini dan di waktu yang lain. Ruang berpikir dan berekspresi jangan dibatasi oleh gap formalistic atasan-bawahan, senior-junior, guru besar-asisten ahli dan segala bentuk dikotomi lainnya. Semua manusia hanya berada pada ruang dan waktu yang berbeda bukan pada kemampuan aslinya, dia hanya butuh waktu untuk proses menjadi. 

Jika komponen penyemaian manusia terdidik terinterupsi oleh kepentingan dan ketidakberpihakan aturan maka bisa diprediksi seberapa berat bagi sebuah bangsa untuk bertahan dan mencapai tujuan-tujuannya. Musuh dari sebuah perkembangan manusia bukanlah tahapannya melainkan zona nyaman yang meninanbobokan manusia hingga tertidur pulas dan tidak mau bangun lagi. Sebuah aturan yang dibuat selalu bersifat temporal untuk mengamankan situasi yang kekinian. Namun, proyeksi ke depan, opini peradaban di masa yang akan datang tidak bisa disandarkan pada siklus aturan, regulasi dan administrasi saat ini. Jika hal ini terus berlangsung tanpa antisipasi, ini sebuah kebodohan yang disengaja.

 

Sumber : https://www.kompasiana.com/edi_ramawijayaputra/kampus-mahasiswa-dan-opini-peradaban_5a4dd06fdd0fa81cc809d612



Pengirim : Hendi Sobari


Share This Post To :

Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Komentar FB
Komentar Standar

Komentar Melalui Facebook :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas

Kembali ke atas